Alumni Ternama Universitas Indonesia: Dimana Mereka Sekarang?
1. Jusuf Kalla (Sarjana Ekonomi)
Jusuf Kalla, mantan Wakil Presiden Indonesia, lulus dari Universitas Indonesia pada tahun 1979. Setelah menjabat dua periode sebagai Wakil Presiden di bawah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dari tahun 2004 hingga 2009 dan Joko Widodo dari tahun 2014 hingga 2019, ia tetap menjadi tokoh berpengaruh dalam politik Indonesia. Pasca pensiun, Kalla aktif terlibat dalam berbagai kegiatan filantropi, dengan fokus pada pendidikan dan bantuan bencana melalui Yayasan Kalla miliknya.
2. Megawati Sukarnoputri (Bachelor of Social and Political Sciences)
Megawati, presiden perempuan pertama Indonesia, menyelesaikan studinya di Universitas Indonesia pada tahun 1970. Berasal dari keluarga politik, ia mengambil posisi sebagai pemain penting dalam politik Indonesia, menjabat sebagai presiden dari tahun 2001 hingga 2004. Sebagai ketua Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), ia terus membentuk wacana politik di Indonesia. Setelah masa kepresidenannya, Megawati fokus pada penguatan partainya dan advokasi kesetaraan gender.
3. Sri Mulyani Indrawati (Bachelor of Economics)
Sri Mulyani Indrawati, seorang ekonom pelopor, lulus pada tahun 1986 dari Universitas Indonesia. Saat ini menjabat sebagai Menteri Keuangan Indonesia, beliau sebelumnya bekerja di Bank Dunia dan Direktur Pelaksana Grup Bank Dunia. Kebijakannya menekankan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan reformasi fiskal, khususnya dalam menanggapi pandemi COVID-19. Indrawati tetap menjadi tokoh terkemuka di bidang keuangan internasional, mengadvokasi kebijakan yang mendorong pembangunan ekonomi.
4. Anies Baswedan (Master of Public Policy)
Anies Baswedan, yang memperoleh gelar Magister Kebijakan Publik dari Universitas Indonesia pada tahun 2004, menjabat sebagai Gubernur Jakarta pada tahun 2017 hingga 2022. Masa jabatannya ditandai dengan perhatian yang signifikan terhadap reformasi pendidikan dan pembangunan perkotaan. Setelah meninggalkan jabatannya, ia mengalihkan fokusnya ke politik nasional, mengumumkan pencalonannya sebagai presiden pada pemilu mendatang. Pendekatan Baswedan menekankan inklusivitas dan inovasi dalam pelayanan publik.
5. Ahmad Najib Qodratullah (Sarjana Hukum)
Ahmad Najib Qodratullah adalah tokoh terkemuka di bidang hukum dan politik, lulusan Universitas Indonesia pada tahun 2000. Sebagai anggota Majelis Nasional, ia merupakan pendukung vokal bagi reformasi hukum dan langkah-langkah anti-korupsi. Kepemimpinan Qodratullah dalam inisiatif legislatif terus mempengaruhi kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan tata kelola pemerintahan di Indonesia. Beliau aktif terlibat dalam berbagai komite legislatif yang fokus pada hak asasi manusia dan perlindungan hukum.
6. Rhenald Kasali (Master of Management)
Rhenald Kasali, menyelesaikan Magister Manajemen pada tahun 1991, telah menjadi profesor dan konsultan bisnis terkemuka. Keahliannya mencakup transformasi bisnis dan inovasi. Setelah karir akademisnya, ia mendirikan Indonesia Business Innovation Center, di mana ia membimbing para wirausahawan dalam menavigasi kompleksitas pasar global. Kasali juga seorang penulis berpengaruh dalam filosofi kepemimpinan dan manajemen.
7. Rahman Tollak (Sarjana Kedokteran)
Rahman Tollak, lulusan fakultas kedokteran Universitas Indonesia, telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap kesehatan masyarakat di Indonesia. Menjabat sebagai dokter senior di beberapa inisiatif kesehatan pemerintah, Tollak diakui atas perannya dalam program pemberantasan malaria. Baru-baru ini, ia fokus pada aksesibilitas dan pendidikan layanan kesehatan, serta mengadvokasi kebijakan layanan kesehatan yang lebih baik di seluruh negeri.
8. M. Nuh (Sarjana Pendidikan)
M. Nuh, lulusan Fakultas Ilmu Pendidikan, menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia dari tahun 2009 hingga 2014. Masa jabatannya sangat penting bagi reformasi pendidikan, termasuk perubahan kurikulum dan peningkatan kompetensi guru. Setelah meninggalkan jabatannya, Nuh menjadi tokoh berpengaruh di dunia pendidikan, sering memberikan ceramah dan berpartisipasi dalam diskusi kebijakan untuk memperbaiki lanskap akademis Indonesia.
9. Joko Anwar (Bachelor of Film)
Seorang sutradara dan penulis skenario film berbakat, Joko Anwar memperoleh gelar sarjana dari Universitas Indonesia dan sejak itu menjadi salah satu pembuat film paling terkenal di negara ini. Film-filmnya, seperti “Pengabdi Setan” dan “Gundala,” telah mendapat pengakuan nasional dan internasional, sehingga menarik perhatian perfilman Indonesia. Saat ini, ia terlibat dalam berbagai proyek dan inisiatif untuk membina para pembuat film masa depan di Indonesia.
10. Nadiem Makarim (Sarjana Ilmu Komputer)
Nadiem Makarim, CEO dan pendiri Gojek, lulus dengan gelar Sarjana Ilmu Komputer dari Universitas Indonesia. Pendekatan inovatifnya terhadap layanan ride-hailing dan logistik mengubah lanskap digital Indonesia. Pada tahun 2019, ia diangkat menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, di mana ia menerapkan kebijakan untuk memajukan kerangka pendidikan Indonesia. Makarim tetap aktif dalam diskusi mengenai peran teknologi dalam pendidikan dan kemajuan ekonomi.
11. Salma’a Ibrahim (Sarjana Administrasi Bisnis)
Salma’a Ibrahim, seorang pengusaha sukses dan advokasi pemberdayaan perempuan, menyelesaikan studinya dengan gelar di bidang Administrasi Bisnis. Setelah mendirikan startup berbasis dampak yang berfokus pada kesehatan perempuan, saat ini ia memanfaatkan pengalamannya di bidang teknologi untuk terlibat dalam program bimbingan yang ditujukan bagi perempuan muda dalam dunia bisnis. Inisiatif Ibrahim fokus pada promosi kesetaraan gender dan kewirausahaan sosial.
Universitas Indonesia telah membina beragam individu berbakat yang terus memberikan dampak di berbagai sektor, mulai dari politik hingga bisnis dan seterusnya. Perjalanan mereka menunjukkan komitmen lembaga ini dalam menghasilkan pemimpin yang siap menghadapi tantangan global dan lokal saat ini.

